Riset Linux Foundation: AI Pangkas Waktu Coding, tapi 25% PR Cuma "Sampah AI"
Linux Foundation Research merilis studi terbaru tentang dampak kecerdasan buatan generatif terhadap pengembangan perangkat lunak open source. Laporan berjudul "Navigating Open Source Software Development in the Generative AI Era" ini dipresentasikan pada ajang All Things Open 2026 di Raleigh, North Carolina, pada 19–20 Oktober 2026, dengan dukungan sponsor dari Red Hat serta Futurewei, OpenSSF, dan LF AI & Data.
Temuan utamanya dua sisi mata uang. Di satu sisi, AI generatif terbukti mendongkrak produktivitas pengembang secara signifikan — responden memperkirakan penghematan waktu hingga 50 persen di berbagai aktivitas pengembangan, dengan penulisan kode 52 persen lebih cepat dan diskusi proposal 19 persen lebih singkat. Sebanyak 59 persen maintainer proyek melaporkan pertumbuhan kontribusi ke proyek open source mereka.
Namun di sisi lain, banjir kontribusi ini membawa masalah kualitas. Sekitar 25 persen pull request yang masuk diperkirakan berkualitas rendah alias "AI slop" — kode hasil AI yang asal jadi tanpa pemahaman mendalam. Beban kerja maintainer pun meningkat karena harus menyaring kiriman-kiriman tersebut.
Survei juga mencatat paradoks kepercayaan: 71 persen maintainer setuju AI generatif menurunkan hambatan masuk bagi kontributor baru, tetapi 53 persen tidak setuju bahwa AI telah meningkatkan kepercayaan dalam komunitas. Artinya, partisipasi naik, tetapi kohesi komunitas justru tergerus.
Linux Foundation menyimpulkan perlunya tata kelola AI yang lebih kuat di proyek open source, termasuk kebijakan kontribusi yang jelas, standarisasi atribusi dan verifikasi kode hasil AI, serta investasi berkelanjutan pada pendampingan manusia. Tanpa itu, efisiensi yang ditawarkan AI berisiko dibayar mahal dengan menurunnya kualitas dan kepercayaan komunitas.
